Pages

Subscribe:
Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

1.12.2011

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA ROSUL DAN KHULAFAUR ROSIDIN

Pembentukan moral yang tinggi adalah tujuan utama dari pendidikan Islam. Pada ulama telah berusaha menanamkan akhlak yang mulia, meresapkan fadhilah dalam jiwa manusia, membiasakan mereka berpegang teguh kepada moral yang tinggi dan menghindari hal-hal yang tercela. Ilmu di masa Rasul dan khalifah adalah suatu yang paling berharga di dunia. Sedangkan ulama yang beramal adalah pewaris para Nabi, seseorang tidak akan sanggup menjalankan mission (tugas-tugas) ilmiah kecuali bila ia berhias dengan akhlak yang tinggi, jiwanya bersih dari berbagai celaan. Dengan jalan ilmu dan amal serta kerja yang baik, rohani mereka meningkat naik mendekati Maha Pencipta yaitu Allah SWT.
Pendidikan Islam mengutamakan segi kerohanian dan moral, maka segi pendidikan mental, jasmani, matematik, ilmu sosial dan jurusan-jurusan praktis tidak diabaikan begitu saja, sehingga dengan demikian pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang komplit dan pendidikan tersebut telah meninggalkan bekas yang tidak dapat dibantah dibidang keimanan, aqidah dan pencapaian ilmu karena zat ilmiah itu sendiri. Pada masa Rasul telah memiliki perkembangan diberbagai bidang, misalnya ilmiah, kesusasteraan dan kebendaan, tetapi belum sampai ke tingkah rohaniah dan akhlak yang tinggi seperti yang pernah dicapai oleh kaum muslimin di masa kejayaannya.

A. Lembaga Pendidikan Pada Masa Rasul dan Khalifah
Adapun alasan yang muncul bagi penentuan ilmu, yang menuntutnya dijadikan tugas agama, satu hal yang pasti adalah bahwa ayat-ayat al-Qur’an dan ucapan Rasul yang menekankan kepentingan belajar bersama fakta, bahwa simbol sentral dari wahyu Islam adalah sebuah kitab, menjadikan belajar tidak dapat dipisahkan dari agama yang menjadi tempat utama dimana pengajaran dilaksanakan dalam Islam adalah masjid, dan sejak dekade pertama sejarah Islam, lembaga pengajaran sebagian besar tetap tak dapat dipisahkan dari masjid dan biasanya dibiayai dengan shadaqah agama.
Masjid mulai berfungsi sebagai sekolah sejak pemerintahan khalifah kedua, yaitu “Umar” yang mengangkat “penutur” sebagai qashsh untuk masjid di kota-kota, umpama Kufa, Bashrah, dan Damsyik guna membacakan Qur’an dan hadits (sunnah Nabi), dari pengajaran awal dalam bahasa dan agama ini lahirlah sekolah dasar rakyat (Maktab) dan juga pusat pengajaran lanjutan, yang berkembang menjadi universitas-universitas pertama abad pertengahan, dan yang akan menjadi model bagi universitas permulaan di Eropa pada abad 11 dan ke-12.
Tujuan maktab yang masih bertahan di banyak bagian dunia Islam, yaitu memperkenalkan remaja dengan ilmu membaca, menulis, dan lebih khusus dengan prinsip-prinsip agama. Jadi maktab berfungsi disamping sebagai pusat pendidikan agama dan sastra bagi masyarakat umum, juga sebagai sesuatu yang lebih menarik bagi studi kita ini tingkat persiapan bagi lembaga pengajaran lanjutan, dimana sains diajarkan dan dikembangkan.
Pada masa ini pula, muncul kelompok tabi’in yang berguru pada lulusan awal, di antara yang paling terkenal adalah Rabi’ah al-Razi yang membuka pertemuan ilmiah di Masjid Nabawi, adapun murid-muridnya adalah Malik bin Anas al-Asbahi pengarang kitab “al-Muwatta” dan pendiri mazhab Maliki. Sedangkan ulama-ulama tabi’in adalah Sa’id bin al-Musayyab, Urwah bin al-Zubair, Salim Mawla bin Umar dan lain-lain. Di antara yang belajar pada Ibnu Abbas adalah Mujahid (w. 105 H), Sa’id bin Jubair (w. 94 H), Ikrimah Mawla ibn Abbas, Tawus al-Yammani, ‘Ata bin Abi Rabah, semuanya dari Mekah. Di antara tabi’in itu juga adalah al-Hasan al-Basri yang belajar pada Rabi’ah al-Ra’y di Madinah, kemudian kembali ke Bashrah yang dikunjungi oleh penuntut-penuntut ilmu dari seluruh pelosok negeri Islam.
Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam
Ketika agama Islam diturunkan Allah, sudah ada di antara para sahabat yang pandai tulis baca. Kemudian tulis baca tersebut ternyata mendapat tempat dan dorongan yang kuat dalam Islam, sehingga berkembang luas di kalangan umat Islam. Ayat al-Qur’an yang pertama diturunkan, telah memerintahkan untuk membaca dan memberikan gambaran bahwa kepandaian membaca dan menulis merupakan sarana utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam. Kepandaian tulis baca dalam kehidupan sosial dan politik umat Islam ternyata memegang peranan penting, sejak nama Nabi Muhammad saw digunakan sebagai media komunikasi dakwah kepada bangsa-bangsa di luar bangsa Arab, dan dalam menuliskan berbagai macam perjanjian. Pada masa Khulafaur Rasyidin dan masa-masa selanjutnya tulis baca digunakan dalam komunikasi ilmiah dan berbagai buku ilmu pengetahuan. Karena tulis baca semakin terasa perlu, maka maktab berbagai tempat belajar, menulis dan membaca, terutama bagi anak-anak, berkembang dengan pesat. Pada mulanya, di awal perkembangan Islam maktab tersebut dilaksanakan di rumah guru-guru yang bersangkutan dan yang diajarkan adalah semata-mata menulis dan membaca, sedangkan yang ditulis atau dibaca adalah syair-syair yang terkenal pada masanya.
Lembaga Pendidikan Islam Sebelum Berdirinya Sekolah
Amalan Rasulullah saw diikuti oleh para sahabat dan pengikut-pengikutnya dan juga kaum muslimin kemudian semakin berkembang negara Islam, semakin banyak pula masjid didirikan untuk memainkan peranannya yang penting dalam masyarakat. Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, negeri Parsi, Syam, Mesir dan seluruh semenanjung tanah Arab ditaklukkan, masjid-masjid didirikan di semua kampung sebagai tempat ibadah dan pusat pendidikan Islam.

B. Pusat Pendidikan Islam Pada Masa Rasul dan Khalifah
Bahwa meluasnya daerah kekuasaan Islam dibarengi dengan usaha penyampaian ajaran Islam kepada penduduknya oleh para sahabat, baik yang ikut sebagai anggota pasukan maupun yang kemudian dikirim oleh khalifah dengan tugas khusus mengajar dan mendidik, maka di luar Madinah, dipusat-pusat wilayah yang baru dikuasai, berdirilah pusat pendidikan dibawah pengurusan para sahabat yang kemudian dikembangkan oleh para tabi’in.
Mahmud Yunus dalam bukunya “Sejarah Pendidikan Islam” menerangkan bahwa pusat pendidikan tersebar di kota-kota besar seperti:
1. Kota Makkah dan Madinah (Hijaz)
2. Kota Bashrah dan Kuffah (Irak)
3. Kota Damsyik dan Palestina (Syam)
4. Kota Fistat (Mesir).
Pada masa itu pula timbullah madrasah, madrasah yang masih merupakan sekedar tempat memberikan pelajaran dalam bentuk khalaqah di masjid atau tempat pertemuan yang lain.

C. Madrasah-Madrasah yang Terkenal dan Para Tokohnya
1. Madrasah Makkah
Guru pertama yang mengajar di Makkah adalah Mu’ad bin Jabal, pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan (65-86 H). Abdullah bin Abbas pergi ke Makkah, lalu dia mengajar tafsir, hadits, fiqih, dan sastra. Abdullah bin Abbas adalah pembangun madrasah Makkah. Di antara murid Ibn Abbas yang menggantikannya sebagai guru di madrasah Mekkah adalah Mujahid bin Jabar (seorang ahli tafsir al-Qur’an yang meriwayatkannya dari Ibn Abbas), Atak bin Abu Rabah (ahli dalam fiqh), dan Tawus bin Kaisan (seorang fuqaha) dan mufti di Makkah, dan seterusnya diwariskan kepada muridnya juga.
2. Madrasah Madinah
Di sinilah madrasah termasyhur, karena khalifah Abu Bakar, Umar dan Usman serta banyak pula sahabat Nabi yang mengajar. Seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Umar. Zaid bin Sabit adalah seorang ahli qiraat dan fiqih, beliau mendapat tugas memimpin penulisan kembali al-Qur’an, baik di zaman Abu Bakar ataupun Usman bin Affan. Sedangkan Abdullah bin Umar adalah ahli hadits, beliau juga sebagai pelopor madzhab Ahl al-Hadits yang berkembang.
Adapun ulama-ulama sahabat yang gugur kemudian digantikan muridnya adalah :
a. Sa’ad bin Musyayab
b. Urwah bin al-Zubair bin al-Awwan.
3. Madrasah Bashrah
Ulama sahabat yang terkenal di Bashrah adalah Abu Musa al-Asy’ari (sebagai ahli fiqih, hadits dan ilmu al-Qur’an). Sedangkan Anas bin Malik (terkenal dalam ilmu Hadits), guru yang terkenal adalah Hasan al-Basari dan Ibn Sirin. Hasan al-Basri disamping seorang ahli fiqh, ahli pidato dan kisah, juga terkenal sebagai seorang ahli pikir dan ahli tasawuf. Ia dianggap sebagai perintis mazhab ahl as-sunnah dalam lapangan ilmu kalam. Sedangkan Ibn Sirin adalah seorang ahli hadits dan fiqh yang belajar langsung dari Zaid bin Sabit dan Anas bin Malik.
4. Madrasah Kufah
Di Kufah ada Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud. Ali bin Abi Thalib mengurus masalah politik dan urusan pemerintahan, sedangkan Abdullah bin Mas’ud sebagai guru agama. Ibn Mas’ud adalah utusan resmi khalifah Umar untuk menjadi guru agama di Kufah. Beliau adalah seorang ahli tafsir, ahli fiqh dan banyak meriwayatkan hadits Nabi saw, di antara murid Ibn Mas’ud yang terkenal adalah Alqamah, al-Aswad, Masruq, al-Haris bin Qais dan Amr bin Syurahbil. Madrasah Kufah ini kemudian melahirkan Abu Hanifah salah imam mazhab yang terkenal dengan penggunaan ra’yu dalam berijtihad.
5. Madrasah Fistat (Mesir)
Tokohnya Abdullah bin Amr bin al-As. Ia adalah seorang ahli hadits, ia tidak hanya menghafal hadits yang didengarnya dari Nabi Muhammad saw saja, melainkan juga menuliskannya dalam bentuk catatan, sehingga ia tidak lupa dalam meriwayatkan hadits kepada para muridnya. Guru termasyhur setelahnya adalah Yazid bin Abu Habib al-Huby dan Abdullah bin Abu Ja’far bin Rabi’ah. Di antara murid Yazid yang terkenal adalah Abdullah bin Lahi’ah dan al-Lais bin Sa’id.

D. Cara Pengajaran / Penyampaian Ilmunya
Ada empat orang Abdullah yang besar sekali jasanya dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada muridnya, yaitu :
1) Abdullah bin Umar di Madinah
2) Abdullah bin Mas’ud di Kufah
3) Abdullah bin Abbas di Makkah
4) Abdullah bin Amr bin al-Ash di Mesir.
Sahabat-sahabat itu tidak menghafal semua perkataan Nabi dan tidak melihat semua perbuatannya. Dia hanya menghafal setengahnya. Maka oleh karena itu, kadang-kadang hadits yang diajarkan oleh ulama di Madinah belum tentu sama dengan hadits yang diajarkan ulama di Makkah. Oleh sebab itu, para pelajar harus belajar di luar negerinya untuk melanjutkan studi. Misalnya, pelajar Mesir melawat ke Madinah, pelajar Madinah melawat ke Kufah dan lain-lain seperti hadits Nabi :
طَلَبُ الْعِلْمِ وَلَوْ بِالسِّنّ
“Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina”.
Yang dimaksud di sini adalah pengajaran ilmu al-Qur’an dan sunnahnya. Pada awalnya saat permulaan turunnya al-Qur’an Nabi mengajarkan Islam secara sembunyi-sembunyi. Mereka berkumpul membaca al-Qur’an dan memahami kandungan setiap ayat yang diturunkan Allah dengan jalan bertadarus.
Pengajaran al-Qur’an tersebut berlangsung terus sampai Nabi Muhammad saw bersama pada sahabatnya hijrah ke Madinah. Sejalan dengan itu, berpindahlah pusat pengajaran al-Qur’an ke Madinah. Penghafalan dan penulisan al-Qur’an berjalan terus sampai masa akhir turunnya. Dengan demikian al-Qur’an menjadi bagian dari kehidupan mereka. Selanjutnya untuk memantapkan al-Qur’an dalam hafalannya, Nabi Muhammad saw sering mengadakan ulangan terhadap hafalan-hafalan mereka.
Al-Qur’an adalah dasar pengajaran, fondasi semua kebiasaan yang akan dimiliki kelak. Sebabnya ialah segala yang diajarkan pada masa muda seseorang, berakar lebih dalam dari pada yang lainnya.
Sedangkan pada masa Khulafaur Rasyidin, cara pengajaran dan penyampaian ilmunya masih sama pada masa Nabi Muhammad saw, yaitu meneruskan jejak Nabi.

KESIMPULAN
Kesimpulannya bahwa sejarah pendidikan Islam di masa Rasul dan Khulafaur Rasyidin sangat menekankan pada pemahaman dan penghafalan al-Qur’an. Pada masa ini keilmuan yang berkembang belum terlalu meluas seperti pada masa setelahnya. Adapun cara pengajarannya sangat sederhana yaitu dengan bertatapan langsung antara pendidik dan peserta didiknya, sehingga pelajaran lebih cepat dipahami.


DAFTAR PUSTAKA
Al-Abrasjy, Muhammad Athijah, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1970.
Fadjar, Abdullah, Peradaban dan Pendidikan Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 1991.
Fahmi, Asma Hasan, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Langgulung, Hasan, Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke-21, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1988.
Nasr, Sayyed Hossein, Sains dan Peradaban di dalam Islam, Bandung: Penerbit Pustaka, 1986.
Zuharini, dkk., Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1986.

http://makalah-ibnu.blogspot.com/2009/12/sejarah-pendidikan-islam-pada-masa.html
READ FULL ARTICLE - PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA ROSUL DAN KHULAFAUR ROSIDIN

Wanita dan Keluarga

“Mbak, sebenarnya persoalan Mbak Vita ini klasik! Sering terjadi pada para wanita
karier. Yang berkarier dalam pekerjaan diluar rumah! Kesibukan dia menjadi sangat
menyita waktu para wanita karier ini!” Sedikit aku menghela nafas panjang. “Mbak,
kalau kita telaah lagi. Antara wanita dan pria yang melakukan sebuah pekerjaan. Saat
para lelaki melakukan pekerjaannya, atau bekerja. Mereka mempunyai tujuan.
Pertama, yang biasanya belum menikah. Maka tujuannya adalah untuk menikah.
Yang kedua, jika lelaki ini sudah menikah. Maka tujuannya adalah, memberikan
nafkah kepada keluarga. Seburuk-buruk suami, tetap suami itu ingin memberikan
nafkahnya kepada keluarganya! Tetapi, jika wanita bekerja. Biasanya yang terjadi.
Pertama, untuk wanita yang belum menikah, tujuannya adalah dua. Menabung untuk
pernikahan, atau menabung untuk urusannya sendiri. Kedua, tujuan wanita bekerja
yang mempunyai suami. Biasanya untuk membantu pemasukan keungan keluarga.
Tetapi, itupun tidak mutlak biasanya juga untuk kebutuhannya sendiri!
Tetapi, jika seorang wanita yang bekerja dengan tujuan mulia. Yaitu untuk
membantu pemasukan keuangan keluarga. Maka tujuannya jelas, bahwa keuangan
keluarga yang menjadi prioritasnya. Sehingga, keluargalah yang menjadi prioritas
pertama! Dan niat itupun tidak boleh berubah, meskipun seiring dengan apa yang
telah Mbak Vita dapatkan. Seperti halnya, karier yang terus melonjak. Tujuan awal
yang Mbak Vita inginkan, adalah sebuah kemuliaan. Seorang istri, tidak boleh
berdiam diri manakalah dia melihat keluarganya kekurangan dengan sesuatu halnya.
Seorang istri, diwajibkan untuk peka dalam urusan-urusan keluarga. Termasuk
dengan kondisi materi keluarga! Dan tujuan seorang istri dalam pekerjaannya, harus
diniatkan untuk keberhasilan dalam berkeluarga. Hingga, seharusnya. Seorang wanita
itu konsisten, atau dalam bahasa agamanya adalah Istiqomah. Terhadap niatnya.
Tidak boleh seorang istri yang bekerja dengan niat untuk keberhasilan dalam
berkeluarga. Harus menyimpang, karena keberhasilan dalam berkariernya dikantor!
Manakala keluarga lebih membutuhkan Mbak Vita. Maka tidaklah Mbak Vita
harus bingung dalam memilih. Karena tujuan Mbak Vita dalam bekerja, adalah untuk
keluarga Mbak Vita sendiri. Tidaklah lucu, saat Mbak Vita bekerja untuk keluarga.
Tetapi, keluarga yang Mbak Vita perjuangkan. Ternyata akan roboh karena tidak
adanya andil yang besar dari Mbak Vita. Nah sebuah pertanyaan, bagi Mbak Vita
kalau ingin tetap mempertahankan pekerjaan atau karier Mbak Vita. Sebenarnya,
untuk siapa Mbak Vita bekerja? Dan apa yang Mbak Vita harapkan dari hasil
pekerjaan Mbak Vita? Apakah rasa puas karena bisa mendapatkan jabatan atau
kedudukan diperusahan yang tinggi? Lalu, setelah Mbak Vita mendapatkan
kedudukan yang tinggi. Untuk apa, jika Mbak Vita sudah tidak mempunyai keluarga
lagi! Karena semua itu akan sia-sia belaka.
Dalam Islam, wanita dibolehkan bekerja. Dan tidak dikekang. Makna gender
dalam Islam pun tidak bias. Tidak seperti apa yang diperjuang oleh para feminimisme.
Karena, setiap perjuangan atau pekerjaan yang dilakukan oleh wanita-wanita muslim.
Sudah sangat jelas. Ada tujuannya. Tujuannya tetap untuk keberhasilan keluarga.
Tetapi, jika perjuangan para feminimisme yang bias gender itu. Tidak mempunyai
tujuan yang jelas, kecuali hanya egoisme dengan hawa nafsunya sendiri!
Dalam Islam, sudah jelas. Bahwa tujuan yang diharapkan oleh para wanita
muslim. Adalah untuk keluarga. Jadi keluargalah yang nomer satu. Sebuah puncak
karier yang tinggi, bagi seorang wanita. Adalah, saat mereka bisa mendidik anak-anak
mereka dengan kemuliaan akhlak bagus, akhidah yang kuat, dan kepintaran yang
membuat mereka dapat bertahan dalam kehidupannya. Sehingga tercipta keluarga
yang sangat harmonis dalam kehidupannya. Dengan kata lain, wanita itu telah
mendapatkan kesakinahan keluarga yang selalu diharap-harapkannya. Islam, tidak
memandang wanita kaya raya, tetapi keluarganya hancur berantakan. Tetapi, Islam
akan memandang seorang istri yang bisa menciptakan suasana yang hangat dalam
keluarganya. Mendidik anak-anaknya dengan perbuatan kebaikan seorang ibunya.
Itulah puncak karier yang paling tinggi. Karena sangat sulit untuk membentuk
keluarga seperti itu! Harus dengan intensif, seorang ibu menjaga anak-anaknya untuk
mencapai keluarga yang seperti kita harapkan!” Aku sedikit menarik nafas panjang.
“Bagaimana, Mbak?”
READ FULL ARTICLE - Wanita dan Keluarga

1.11.2011

Pengalaman Hampir Menjadi Seorang Atheis

Kisah ini aku alami sekitar tahun 2009 yang lalu. Suatu ketika menjelang maghrib hati ini bimbang akan sbuah keyakinan, bertanya, bertanya dan selalu bertanya didalam hatiku. Hingga keesokan harinya aku bangun, kebimbangan dan keraguan itu semakin besar. Dan akhirnya aku bertanya kepada sahabatku yang aku rasa dia cukup memahami agama.
Aku bertanya kepadanya melalui chat karena kami terpisah jarak dan waktu.

"Bos, percaya dengan Tuhan ?" tanyaku.
"Percaya" jawabnya.
"Sudah pernah melihat Tuhan ?" tanyaku.
"Blom" jawabnya.
"Sudah pernah bertatap muka dengan Tuhan ?" tanyaku lagi.
"Blom" jawabnya lagi.
"Sudah pernah berbicara dengan Tuhan ?" tanyaku semakin mendesak.
"Blom" jawabnya pasrah, dan hanya kata itu yang terucap.
"Lalu kenapa sampyan percaya Tuhan ?" tanyaku..
Dia hanya diam dan tak memberi sepatah kata pun.

Hari itu terasa panjang dengan kegundahan dan kebimbangan hati yang menjadi-jadi. Hingga waktu ashar pun tiba, dan tiba pula waktu untuk menunaikan sholat ashar. Aku tetap menunaikan sholat ashar tetapi dengan kegundahan yang amat sangat. Selesai sholat aku berdo'a dengan kegundahan hatiku :
"Ya Allah jika memang Engkau ada tunjukkan ya Allah...Tunjukkan..." berkali kali aku berdoa sepeti itu hingga ku merasa lelah karena aktifitas seharian dan hati yang meronta-ronta.

Akhirnya aku pun tertidur serta antara sadar dan tidak sadar Allah mengingatkanku dengan kisah salah seorang nabi. Nabi itu sudah percaya dan yakin dengan Tuhan, tetapi sang nabi ingin melihat-Nya.

"Ya Allah tolong tunjukkan kepadaku wujud-Mu" sang nabi itu memohon.
"Tetaplah beriman kepada-Ku dan urungkan niatmu itu" jawab Allah.
"Aku beriman kepada-Mu Ya Allah dan aku ingin melihat-Mu" sang nabi berkata sambil memohon.
"Engkau tidak akan kuat melihat-Ku" jawab Allah.
"Tetapi aku ingin melihat-Mu Ya Allah" sang nabii tetap memohon dengan sedikit keegoisan.

Akhirnya permohonan nabi itu dikabulkan, namun Allah tidak menunjukkan wujud-Nya. Allah menunjukkan tentang kenyataan keberadaan-Nya dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya dan tanda-tanda Kebesaran-Nya.

"Baiklah, lihatlah gunung itu" jawab Allah.

Seketika itu juga gunung itu meledak dengan dahsyat dan seketika itu pula sang nabi jatuh pingsan.


Jadi ....
Sesungguhnya Tuhan itu sangat nyata dan Maha Ghoib
Wujud tukang kayu yang membuat meja tidak sama seperti meja yang ia buat
Begitupun Tuhan Sang Maha pencipta, tidak sama sepeti ciptaan-Nya.
Tuhan maha kuasa atas segala sesuatu, hingga diledakkan-Nya sebuah gunung dengan dahsyat untuk menjawab dan menunjukkan kebesaran-Nya kepada sang nabi.

Ashadu Alla Ilaha Ilallah, Wa Ashadu Anna Muhammadur Rosulullah
Aku Bersaksi Tiada Tuhan Kecuali Allah, Dan Aku Bersaksi Muhammad Adalah Utusan Allah
READ FULL ARTICLE - Pengalaman Hampir Menjadi Seorang Atheis

Ketika Sang Istri Dikucilkan

boleh tya, bgmn jika suami melarang istri bekerja dan suami tdk pernah mengajak bicara si istri d rmh.. lingkungan rmh jga mengucilkan si kluarga.. lalu, solusi ap yg bs dilakukan istri spy tdk bosan & tetap brbakti pd suami ?

Pertama, Selama larangan dan atau perintah suami itu tidak berbenturan dengan syariat itu sah dan sang istri wajib melaksanakan. Namun apabila larangan dan atau perintah sang suami tidak sesuai dengan syariat maka sang istri pun boleh bahkan wajib menolaknya. Dan menolaknya pun harus dengan cara yang baik dan bijak agar tidak ada yang tersinggung atau tersakiti.

Kedua, Ketika sang suami jarang mengajak istri berbicara, maka sang istri yang memulai mengajaknya bebicara. Dan kewajiban sang istri untuk berintrospeksi diri "apakah ada yang kurang denganku sehingga suamiku jarang bebicara denganku ?" coba hal itu di tanyakan kepada sang suami. Sang istri harus memurahkan senyumnya kepada suaminya, menyambut suami dengan senyuman saat memasuki rumah dan mendoakan suami agar kembali dengan selamat dan membawa berkah. Ketika sang suami pulang dari kerja sambut dengan senyuman dan tawarkan minuman untuk melepas dahaganya "Mas... ini minuman untuk melepas sedikit lelah dan dahaga mas" seperti yang dilakukan istri Rosulullah ketika Rosulullah pulang dari berdakwah.

Bisa juga sang istri menuliskan pada kertas tentang  kelebihan dan kekurangan serta apa yang ia sukai dari suaminya. Begitupun sang suami juga menuliskan pada kertas tentang  kelebihan dan kekurangan serta apa yang ia sukai dari istrinya. Sang istri memiliki kebutuhan lahir batin, begitu pun sang suami. Kemudian keduanya berkumpul dan saling menukarkan pa yang sudah ditulis tadi. Keduanya berdiskusi untuk memenuhi kebutuhan lahir batin masing-masing agar mencapai keharmonisan rumah tangga dengan melihat hal-hal yang sudah di tulis tadi.

Ketiga, agar sang istri tidak bosan dirumah bisa melakukan berbagai kegiatan. Sang istri bisa bersih-bersih rumah, memasak untuk keluarga, mengaji, membaca untuk menambah pengetahuan dan lain sebagainya yang tidak bertentangan denga syariat. Kemudian jika sang istri ingin menambah pendapatan keluarga, sang isti bisa berjualan dari rumah dengan membuka toko, atau dengan membuka laundy dan lain sebagainya.

Terakhir, ketika lingkungan rumah mengucilkan keluarga maka yang sebaiknya dilakukan oleh keluarga itu adalah dengan bersikaap biasa saja, jangan menjauhi atau malah membuat diri sendiri merasa asing dilungkungan rumah. Hormati orang yang lebih tua dan sayangi orang yang lebih mudah. Ketika saling diam maka sebaiknya yang dikucilkan memulai pembicaraan. Mulai dengan pembicaran yang ringan dan tidak menyinggung. Jika yang mengucilkan menyambut dengan nda ketus atau sinis maka tetap bersikaplah biasa saja dengan hati sabar dan tetap senyum. InsAllah suatu saat nanti yang mengucilkan akan menghilangkan pengucilannya....amiin

Segala kelebihan datangnya dari Allah dan segala kekurangan datangnya dari diri saya. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan saya.

Wallahu A'lamu Bishowab
READ FULL ARTICLE - Ketika Sang Istri Dikucilkan

Kautamaning Bebrayan

Pitudúh : 1
Ora ånå wóng kang ingaranan uríp, kêjabanê kang mikír sartå trêsnå marang wóng kang ringkíh lan nandhang påpå cintråkå. Biså mèlu ngrasakakê kasusahanê sartå lårå lapanê wóng liyå. Kanthi pangråså kang mangkono mau atêgês biså nggadhúh kêkuwatan kang tanpå watês, pêrlu kanggo mitulungi sapådhå-pådhå kang kahananê luwíh nrênyúhakê katimbang dhiri pribadinê. “Pakarti mono darbèk kita dhêwê, nanging wóhê pakarti mau dadi kagunganê Kang Gawê Urip”, mangkono sabdanê sawijinê Pujånggå kalokå.
Pitudúh : 2
Wóng kang baút mawas dhiri iku wóng kang biså manjíng ajúr ajèr, ngêrti êmpan papan laras karo rèh swasånå sakupêngê tanpå ninggalakê subåsitå. Paribasanê wóng kang baút ngadisarirå, åjå múng kalimpút êdiníng busånå baê, nangíng bisowå tansah mêrsudi marang padhangíng sêmu lan manisíng wicårå tanpå nglírwakakê marang alús lan luwêsíng solah båwå.
Pitudúh : 3
Kêcandhakíng sawijiníng idham-idhaman iku ora cukúp múng dibandang móncèr lan pêpakíng ilmu lan kawrúh baê. Nangíng ånå syarat siji kang ora kênå kalirwakakê, yaiku kapintêran ing bab sêsrawungan. Såpå kang bisa tumindak ajúr-ajèr lan biså nuwúhakê råså rêsèp marang liyan, prasasat wis êntúk pawitan kanggo nandangi sakèhíng pagawêyan åpådênê nggayúh idham-idhamanê.
Pitudúh : 4
Nindakakê kabêcikan mono ora mêsthi kudu cucúl wragad, nanging biså ditindakakê sarånå pakarti-pakarti liyanê sing sêjatinê akèh bangêt caranê. Saugêr biså gawê sênênging liyan, upamanê baê måwå ulat sumèh tangkêp srawúng kang sumanak, bisa manjíng ajúr-ajèr ing madyaníng bêbrayan, lan biså dadi patuladhan laku utåmå. Kabèh mau klêbu êwóníng tindak kabêcikan kang ajinê nglêluwihi wragad dêdånå kang diwènèhakê utåwå dipotangakê, apamanèh lamún anggónê mènèhi utåwå ngutangi iku sinamudånå kêbak pamríh.
Pitudúh : 5
Yèn kowê arêp rêmbugan, pikirên luwih dhisík têtêmbungan síng arêp kók wêtókakê. Åpå wís ngênggoni têlúng prêkårå : bênêr, manís, migunani. Êwå sêmono síng bênêr iku isih pêrlu dithinthingi manèh yèn gawê gêndranê liyan prayogå wurúngnå. Dênê têmbúng manís mono ora duwê pamríh, pamrihê biså gawê sênêngê liyan kang tundhónê migunani tumrapê jagadíng bêbrayan.
Pitudúh : 6
Sugíh ómóng kanggo nggayêngakê pasamuwan pancèn apík. Nangíng ngómóng múng golèk suwurê awakê dhêwê sók kêtrucút miyak wêwadinê dhêwê. Pirå baê cacahê wóng kang kêplèsèt uripê múng margå sukå anggónê sugíh ómóng. Mulå sabêcik-bêcikê wóng iku ora kåyå wóng kang mênêng. Nangíng mênêngê wóng kang darbê bóbót kang antêb síng biså dadi panjujuganê pårå pawóngan kang mbutúhakê rêmbúg lan pitudúh.
Pitudúh : 7
Ing jagadíng sêsrawungan mono nyirík marang sêsipatan kang gumêdhê lan wêwatakan kang tansah ngêgúngakê dhiri. Sipat lan wêwatakan mau adhakanê banjúr nuwúhakê råså ora lilå yèn nyipati ånå liyan síng luwíh katimbang dhèwèkê. Mulå saibå bêcikê samångså såpå kang rumangsa pintêr dhêwê, sugíh dhêwê, lan kuwåså dhêwê iku gêlêma nglaras dhiri lan nglêrêmakê cíptanê kang wêning, yèn sêjatinê isíh ånå manèh kang Måhå Pintêr, Måhå Sugih, lan Måhå Luhúr. Klawan mangkono råså pangråså dumèh lan takabúr kang dadi sandhungan pasrawungan biså sumingkír.
Pitudúh : 8
Luwih bêcík makarti tanpå sabåwå kang anjóg marang karahayóníng bêbrayan, katimbang tumindakê wóng kang rêkanê nindakakê panggawê luhúr nangíng disambi udúr. Yêktinê tåtå têntrêm iku ora bakal biså kagayúh yèn tå ora adhêdhasar kêrukunan, dênê kêrukunan iku múng biså kêcandhak yèn siji lan sijinê pådhå biså aji-ingajènan lan móng-kinêmóng.
Pituduh: 9
Yèn atimu wis gilíg arêp gawé kabêcikan kanggo karaharjaníng bêbrayan, bêratên råså uwas marang pandakwå ålå kang ora nyåtå. Srananånå kanthi jêmbaríng dhådhå lan sabaríng nålå, amríh bisa nuwúhaké gêdhéníng prabåwå lan cabaríng sakèhíng piålå.
Pitudúh : 10
Wicårå kang wêtuné kanthi tinåtå runtút kang awujúd sêsulúh kang amót piwulang bêcík, ajiné pancèn ngungkuli mas picís råjåbrånå, biså nggugah budi lan nguripaké pikír. Nangíng kawuningånå yèn grêngsênging pikír lan uripíng jiwå iku ora biså yèn múng kagugah sarånå wicårå baé. Kang wigati yaiku wicårå kang måwå tandang minångkå tulådhå. Jêr tulådhå mono síng biså nuwúhaké kapitayan. Luwíh-luwíh mungguhíng pårå manggalaníng pråjå kang wís pinracåyå ngêmbani nuså lan bångså.
Pitudúh : 11
Luwíh bêcík ngasóraké rågå tinimbangané ngóngasaké kapintêran kang sêjatiné isíh nguciwani bangêt. Ngóngasaké kapintêran iku satêmêné múng kanggo nutupi kabodhowané, jêr kabèh mau mêrga råså samar lan was sumêlang yèn ta kungkulan déníng sapêpadhané. Tindak mangkono mau malah dadi sawijiníng godhå kang múng bakal ngrêrêndhêti lakuníng kêmajuwané dhéwé ing jagadíng bêbrayan.
Pitudúh : 12
Såpå wóngé síng ora sênêng yèn éntúk pangalêmbånå. Nangíng thukulíng pangalêmbånå iku ora gampang. Kudu disranani kanthi pakarti kang bêcik lan murakabi marang wóng akèh. Yèn múng disranani båndhå, pangalêmbanané múng kandhêg ing lambé baé ora tumús ing ati. Déné yèn disranani pênggawé kang lêlamisan, ing pamburiné malah bakal kasingkang-singkang kasingkíraké såkå jagadíng pasrawungan.
Pitudúh : 13
Généyå akèh wóng kang dhêmên nyatur alaníng liyan lan ngalêmbånå awaké dhéwé? Sêbabé ora liya margå wóng-wóng síng kåyå ngono mau ora ngêrti yèn pênggawé mau klêbu pakarti kang ora prayogå, mula prêlu dingêrtèkaké. Awít yèn ora énggal-énggal nyingkiri pakarti kang ora bêcík mau, wusanané dhèwèké kang bakal diêmóhi déníng pasrawungan.
Pitudúh : 14
Nggayúh kaluhuran liré ngupåyå tataraníng uríp kang luwih dhuwúr. Dhuwúr laír lan batiné, ya tumrap dhiri pribadiné ugå sumrambah kanggo karaharjaníng bêbrayan. Nangíng yèn kandhêg salah siji, têgêsé gothang. Yèn múng nêngênaké kaluhuraníng laír gênah múng ngoyak drajat lan sêmat, isíh miyar-miyur gampang kênå pangaribåwå såkå njåbå. Yèn ngêmúngaké kaluhuraníng batín, cêtha ora nuhóni jêjêríng manungsa, awít ora tumandang ing gawé kanggo kêpêrluwaníng bêbrayan. Atêgês tanpå gunå diparingi uríp ing alam donya.
Pitudúh : 15
Sing såpå rumangsa nduwèni kaluputan, åjå isín ngowahi kaluputan sing wís kadhúng katindakaké mau. Jêr ngakóni kaluputan mono wís cêthå dudu tindak kang asór, nangíng malah nuduhaké marang pakarti kang utåmå kang ora gampang linakónan déníng sadhêngah wóng. Iyå wóng kang wis biså nduwèni watak gêlêm ngakóni kaluputané mangkéné iki pantês sinêbút wóng kang jujúr sartå kasinungan ing budi luhúr.
Pitudúh : 16
Manungså uríp iku dibiså nguwasani kamardikaníng laír lan batín. Kang dikarêpakê kamardikaníng laír iku wujudê biså nyukupi kabutuhaning uríp ing sabên dinanê såkå wêtuning kringêt lan wóhíng kangèlan dhêwê ora gumantúng ing wóng liyå lan ora dadi sangganíng liyan. Dênê kamardikaníng batín iku dicakakê sarånå nyingkiri håwå napsu, adóh såkå asór lan nisthaníng pambudi, sêpi ing råså mêlík lan drêngki srèi, sartå tuhu marang paugêran uríp bêbrayan.
Pitudúh : 17
Yèn kêpéngín diajèni liyan, mulå åjå sók dhêmên martak-martakaké, åpå manèh nganti mamèraké kabisan lan kaluwihanmu. Pangaji-ajiníng liyan iku sêjatiné ora pêrlu mbók buru, bakal têkå dhéwé. Nudúhaké kêwasisan pancèn kudu bisa milíh papan lan êmpan. Mulå kang prayoga kêpårå purihên åjå kóngsi wóng liyå biså njajagi. Nangíng mångså kalané ngadhêpi gawé parigawé kêconggah mrantasi.
Pitudúh : 18
Åjå sók ngluputaké, gêdhéné ngundhat-undhat wóng liyå, samångså kitå ora katêkan åpå kang dadi kêkarêpan kitå. Bêciké kitå tliti lan kitå golèki sêbab-sêbab ing badan kita dhéwé, amrih kitå biså uwal såkå dayaníng pangirå-irå kang ora prayogå. Kawruhana, yèn usadané watak apês síng njalari nganti ora katêkan sêdyå kitå iku, ora ånå liya, yå dumunúng ånå ing awak kita dhéwé.
Pitudúh : 19
Arang wóng síng bisa mapanaké råså narima marang åpå baé kang wís klakón digayúh. Yèn rumangsa kurang isíh golèk wuwúh, yèn wís olèh banjúr golèk luwíh, yèn wís luwíh tumuli mbudidåyå åjå ånå wóng síng biså madhani. Wóng kang duwé råså mangkono mau satêmêné mêmêlas. Uripé tansah ngångså-ångså, ora naté sumèlèh atiné. Kanggo nuruti råså kang klèru kasêbút sók-sók banjúr tumindak ora samêsthiné lan nalisír såkå pakarti kang bênêr.
Pitudúh : 20
Watak narimå mono yêkti dadi sihíng Pangéran, nangíng yèntå nganti klèru ing panyuråså biså nuwúhaké klèruníng tumindak. Narimå, liré ora ngångså-ångså nangíng ora kurang wêwékå lan tansah mbudidåyå amríh katêkaning sêdyå, dudu atêgês kêbacút lumúh ing gawé, suthík ihtiyar. Awít yèn mangkono ora jênêng narimå, nagíng kêsèt. Jêr watakíng wóng kêsèt iku múng gêlêm énaké êmóh rêkasané, gêlêm ngêmplók suthík tómbók, satêmah dadi wóng ora wêrúh ing wirang, siningkiraké såkå jagadíng bêbrayan.
Pitudúh : 21
Wóng uríp ing alam bêbrayan iku yêkti angèl, kudu biså ngêrèh pakóné “si aku”, åjå nggugu karêpé dhéwé lan nuruti håwå napsu. Luwíh-luwíh ing dinå samêngko, alam bêbrayan donyå tansah kêbak pradhóndhi, silíh ungkíh, rêbutan bênêré dhéwé-dhéwé. Mulå síng baku, wóng uríp kudu biså miyak alíng-alíng kang nutupi pikiran kang wêníng. Liré, sênajanå sajroníng pasulayan, kudu bisa nyandhêt kêmrungsung “si aku” istingarah sakèhíng bédané panêmu biså disawijèkaké.
Pitudúh : 22
Wóng kang nduwèni watak tansah njalúk bênêré dhéwé iku adaté banjúr kathukulan bêndånå sênêng nênacad lan ngluputaké marang panêmu sartå tindak tanduké wóng liyå. Méndah bêciké yèn wóng síng kåyå mangkono mau kålå-kålå gêlêm nggraitå ing njêro batiné : “mbók mênåwå aku síng klèru, mulå cobå dak tlitiné klawan adíl såpå kang sêjatiné nyåtå-nyåtå bênêr”.  
Pitudúh : 23
Rêsêpíng omah iku ora dumunúng ing barang-barang méwah kang larang rêgané, nangíng gumantúng marang panataníng prabót kang prasåjå, sartå pêmasangé rêrênggan kang adóh såkå watak pamèr. Sêmono ugå rêsêpíng salirå iku ora margå såkå pacakan kang èdi-pèni, nangíng gumantúng ing sandhang pênganggo kang prasåjå, trapsilå solah båwå, lan padhanging polatan.  
Pitudúh : 24
Yèn kowé kêpênêr lagi srêngên lan nêsu, prayogané wóng síng kók nêsóni lan kók srêngêni mau kóngkónên énggal sumingkír. Utåwå kowé dhéwé sumingkirå sauntårå, aja têtêmónan karo wóng liya. Sabanjuré mênêngå lan étúng-étúngå kanthi sarèh wiwít siji têkan sêpulúh. Klawan mêngkono atimu bakal bisa nimbang-nimbang åpå nêsu lan srêngênmu marang wóng mau bênêr, åpå malah dudu kowé dhéwé síng lupút.  
Pitudúh : 25
Jênêng tanpå gunå uripíng manungså kang nganti ora biså nyumurupi marang kang kêdadéyan ing sakiwå têngêné. Ora biså asúng lêlimbangan lan pamrayogå sakadharé kanggo karahayóníng bêbrayan. Rupak pandêlêngé ora ånå liyå kang disumurupi kajåbå uripé dhéwé. Mati pangrasané, jalaran ora kulina kanggo ngrasak-ngrasakaké kang katón ing sabên dinané, wusana dadi cêthèk budiné, jalaran såkå kalêpyan marang têpå palupi kang maédahi ing uripé.
Pitudúh : 26
Åjå sók nyênyamah luputíng liyan, luwíh bêcík tudúhnå kaluputané kang malah biså ngrumakêtaké råså pasêduluran. Éwåsêmono åjå nganti kowé kêsusu mbêcíkaké kêlakuwané liyan, yèn awakmu dhéwé rumångså durúng biså ngênggóni råså sabar lan têpa sêlirå. Såpå kang wís ngêrti lan ngrumangsani marang sakèhíng dosané, iku sawijiníng wóng kang wís ngêrti marang jêjêríng kamanungsané, manungsa kang utåmå.
Pitudúh : 27
Ajiníng manungså iku kapúrbå ing pakartiné dhéwé, ora kagåwå såkå katurunan, kapintêran, lan kasugihané. Nangíng gumantúng såkå ênggóné nanjakaké kapintêran lan kasugihané, sartå matrapaké wêwatêkané kanggo kêpêrluan bêbrayan. Kabèh mau yèn múng katanjakaké kanggo kapêrluwané dhéwé, tanpå paédah. Nangíng yèn pakarti mau kadayan déníng råså pêpinginan golèk suwúr, golèk pangkat lan donya brånå, malah bisa dadi mêmalaníng bêbrayan, jalaran nyinamudana sarånå nylamúr migunakaké jênêngé wóng akèh.
Pitudúh : 28
Ora ånå budi kang luwíh luhur saliyané nduwèni råså asíh marang nuså lan bangsané. Kadunungan råså rumangsa nduwèni sêsanggêman lan kuwajiban mranåtå têntrêmíng pråjå kanthi pawitan kapintêran kang dilandhêsi kawicaksananing pambudi. Tåndhå yêktiné yèn asíh, yaiku tansah samaptå tumandang sawayah-wayah yèn ånå parigawé kang wigati kanggo wargå sapådhå-pådhå, munggahé tansah samaptå lêladi kanggo kêslamêtaníng bêbrayan lan karaharjaníng nagårå.
Pitudúh : 29
Wóng kang kêrêp tansah dipituturi wóng liya iku adaté bisa dadi wóng dhêmên ngati-ati, nangíng mênåwå kapêngkók ing pêrlu sók ora bisa tumindak lan ngrampungi dhéwé. Kêpêkså isíh kudu nolèh wóng liya síng diwawas bisa awèh pitudúh. Mulå kuwi prayogå ngawulåå marang ati lan kêkuwatanmu dhéwé, jalaran wóng liyå iku sêjatiné yèn ånå apa-apané múng sadêrmå nyawang, ora mèlu ngrasakaké.
Pitudúh : 30
Wóng kang rumångså dhiriné linuwíh, ing sawijiníng wêktu mêsthi bakal kasurúng atiné arêp mamèraké kaluwihané, liré amríh dimangêrtènånå déníng wóng akèh yèn dhèwèké mono wóng kang pinunjúl lan supåyå diajènånå. Sumurupå, sakabèhíng kaluwihan mau yèn ora dicakaké måwå lêlabuhan kang murakabi marang bêbrayan, tanpå gunå kêpårå malah ora kajèn lan gawé pitunå. Mula kang prayogå biså tulús dadi wóng kang linuwih mênåwå gêbyaríng kaluwihan iku múng dikatónaké marang batiné dhéwé, iku wís cukup.
Pitudúh : 31
Dêdånå utåwå sêdhêkah marang wóng kang lagi nyandhang påpå cintråkå iku sawijiníng pênggawé bêcík kang patút tinulådhå, saugêr pawèwèh mau ora kinanthènan panggrundêl kang nêlakaké ora éklasíng atiné. Têtêmbungan kang lêmbah ing manah lan mêrak ati iku luwih gêdhé ajiné katimbang dêdånå kang ora éklas. Suprandéné nulúng lan mènèhi pêpadhang marang jiwané wóng kangkacingkrangan iku kang sêjatiné luwih pêrlu lan wigati, katimbang múng têtulúng marang awaké kang awujúd kêlairan baé.
Pitudúh : 32
Ulat sumèh, tindak-tandúk sarèh kinanthènan têmbúng arís iku biså ngruntúhaké ati sartå ngêdóhaké panggódhaning sétan. Kósókbaliné watak wicårå kang kêras, kêjåbå kêduga gawé tanginíng kanêpsón, ugå gampang nuwúhaké salah panåmpå. Sabarang prakårå kang sêjatiné bisa putús sarånå arís lan sarèh, kêpêksa dadi adu wulêding kulít lan atósíng balúng, kari si sétan ngguyu ngakak bungah-bungah.
Pituduh : 33
Wóng kang kulinå uríp mubra-mubru iku samangsané ngalami sandhungan uríp sêthithík baé adaté gampang kêthukulan gagasan lan gawé kang cêngkah karo bêbênêr, luwíh bêgjå wóng kang uripé pokal samadyå nangíng rêsík atiné. Déné bêgja-bêgjané wóng iku ora kåyå wóng síng tansah uríp ing kahanan kang kêbak godhå rêncånå, prasasat tåpå ånå satêngahíng cobå, nangíng tansah tawêkal lan kandêl kêimanané marang adilíng Pangéran Kang Måhå Kuwåså.
Pitudúh : 34
Sipaté wóng uríp iku mêsthi kêsinungan kêkuwatan. Kang ngêrti biså ngêcakaké déné kang ora biså ngêrti kurang digladhi, têmahan ora tumanja. Éwåsémono ngêmpakaké kêkuwatan mula ora gampang. Buktiné ora sêthithík kêkuwatan kang êmpané ora mapan. Kawruhana, yèn rusaké bêbrayan ing antarané margå såkå pakartiné pårå-pårå kang ngêrti marang dayaníng kêkuwatané nangíng ora kanggo nggayúh gêgayuhan kang mulyå, múng kanggo nuruti dêrênging ati angkårå.
Pitudúh : 35
Katrêsnan kang tanpå pangrêksa iku dudu sêjatiníng katrêsnan. Kênå diarani sêjatiníng katrêsnan kang múng kadêrêng lan kêna ing pangaribawaníng håwå napsu. Dadi yèn ånå unèn-unèn ” trêsnå iku wutå” yaiku síng kaprabawan håwå napsu. Síng prayogå iku mêsthiné kudu ngugêmi unèn-unèn “trêsnå iku rumêkså” biså salaras tumindaké. Rasaníng katrêsnan kang cêdhak dhéwé tumrap sadhêngah manungså iku dumunúng ing awaké dhéwé. Mulå såpå kang trêsnå marang sapådhå-pådhå iku aran trêsnå marang awaké dhéwé, tundhóné såpå kang tansah ngrêkså marang karahayóníng liyan, ora bédå karo pangrêkså marang kêslamêtané dhéwé.
Pitudúh : 36
Srawúng ing madyaning bêbrayan iku kêjåbå kudu wasís milíh papan lan êmpan, ugå kudu bisa angón mångså lan mulat ing sêmu. Åjå nggêgampang ngrójóngi rêmbúg kang kowé dhéwé durúng ngrêti prakarané. Rêmbúg sêthithík nanging mranani iku nudúhaké bóbótíng pribadi. Rêmbúg akèh nangíng ampang malah gawé sånggå rungginé síng pådhå ngrugókaké kêpårå njuwarèhi.
Pitudúh : 37
Wóng kang wís têkan pêsthiné utåwå wis katimbalan bali mênyang jaman kêlanggêngan iku sêjatiné lagi kênå diwènèhi biji tumrap ajiné kamanungsané lan pakartiné nalikå uríp. Déné wóng kang isíh pådhå uríp iku pêrlu disêmak baé dhisík, durúng kênå dipatrapi biji, jêr kahanané isih bisa owah gingsír. Sarèhné manungså iki sawijiníng titah kang luhúr dhéwé, mulå wís samêsthiné yèn kitå åjå nganti kayadéné sato kang patiné múng ninggal têngêr lulang lan balúng baé. Nangíng bisowå kita nanjakaké uríp kitå marang pakarti-pakarti utåmå, sumrambahé marang karahayóning uríp bêbrayan.
Pitudúh : 38
Mustikané wóng tuwå marang anak múng ånå ing laku kang gumati, gunêm kang rurúh, lan ujar kang manís. Gumatiné dumunúng ing têpå tuladhaníng tingkah laku. Gunêm lan ujar kawêngku ånå ing ucap kang istingarah numusi kajiwan, lan luhuríng budi pêkêrti. Mula yèn ånå åpå-åpå, åjå sêlak marang sêbutíng paribasan : “Ora ånå kacang ninggal lanjaran”.
Pitudúh : 39
Nanggapi kahanan urip ing satêngahíng bêbrayan iku gampang angèl. Aran angèl kêpårå malah bisa gawé kêtliwênging pikír samångså anggón kita mawas kêdhisikan kagubêl ing håwå. Aran gampang yèn kita biså mikír klawan wêníng lan mênêb. Iyå pamikír kang mênêb iku kang aran akal budi sêjati. Kang bisa mbabaraké wóhíng wawasan kang mulús rêsík, ora kacampúran blêntóngé “si aku”. Apamanèh yèn tå kitå biså têtêp nguwasani wêningíng pikír, nadyan kahanané uríp ing satêngahing bêbrayan kisruhå dikåyångåpå, istingarah ora angèl anggón kita nanggapi.
Pitudúh : 40
Srêngên marang wóng mono åjå nganti kênêmênên lan kêliwat-liwat múng margå wis ngêrti yèn wóng mau ora bakal wani nglawan utåwå wís ora biså nglawan, síng èstiné múng arêp ngêdír-êdíraké drajad pangkat utåwå kadibyané baé. Pakarti kaya ngono mau kêjåbå klêbu ambêg siyå, ugå wóng síng disrêngêni durúng karuwan bakal dadi bêcík, kêpårå bisa nuwúhaké råså sêngít. Kang prayogå iku srêngên samadyå kang mêngku pitutúr murih bêciké.
Pitudúh : 41
Wóng pintêr kang ora kinanthènan ing kautaman iku ora bédå karo wóng wutå kang nggåwå óbór ing wayah bêngi. Madhangi wóng liyå nangíng dhèwèké dhéwé lakuné kêsasar-sasar. Kapintêran mangkéné iki yèn tå dicakaké ing madyaning bêbrayan bakal nuwúhaké kapitunan, pikolèhé malah múng wujúd kasangsaran lan karusakan.
Pitudúh : 42
Síng såpå ngidham kaluhuran kudu wani kúrban lan ora wêgah ing kangèlan. Mêrgå yèn tansah tidhå-tidhå, mokal åpå sing kagayúh bisa digånthå lan tangèh lamún åpå síng diluru bisa kêtêmu. Makarti wani rêkåså kanthi masrahaké urip lan jiwå rågå marang Kang Múrbèng Kuwåså. Yèn kêpingín mênang pancèn larang patukóné, yaiku kudu bisa nuhóni sêsanti: “Surå dirå jayaníngrat lêbúr déníng pangastuti”. Pituduh : 43 Isíh bêjå yèn kowé diunèkaké “Ora Lumrah Uwóng”, jalaran isíh dianggêp manungså. Yå múng solah tingkahmu kang kudu kók owahi amríh ora gawé sêrikíng liyan. Cilakané yèn diunèkaké “Ora Lumrah Manungså”, jalaran kowé dianggêp sétan gêntayangan síng múng dadi lêlêthêging jagad margå pakartimu kang ninggal sifat kamanungsan. Mula énggal-énggala sumujudå marang Gusti Kang Múrbèng Dumadi. Sifaté Gústi Allah mono sarwå wêlas asíh marang umaté kang wís sadhar marang doså-dosané sartå têmên-têmên bali tuhu marang dhawúh-dhawuhé.
Pitudúh : 44
Ora ånå pênggawé luwíh déníng múlya kêjåbå dêdånå síng ugå atêgês mbiyantu nyampêti kêkuranganing kabutuhané liyan. Dêdånå marang sapêpådhå iku atêgês ugå mitulungi awaké dhéwé nglêlantih marang råså lilå lêgåwå kang ugå atêgês angabêkti marang Pangéran Kang Måhå Wikan. Pancèn pangabêkti mono wís aran pasrah, dadi kitå ora ngajab marang baliné sumbangsih kang kitå asúngaké. Kabèh iku síng kagungan múng Pangéran Kang Måhå Kuwåså, kitå ora wênang ngajab wóhíng pangabêkti kanggo kitå dhéwé. Nindakaké kabêcikan kanthi dêdånå kita pancèn wajíb, nanging ngundhúh wóhíng kautaman kitå ora wênang.
Pitudúh : 45
Mêmitran pasêduluran nganti jêjodhowan kuwi yèn siji lan sijiné biså êmóng-kinêmóng, istingarah biså sêmpulúr bêcík. Yèn ånå padudón sêpisan pindho iku wis aran lumrah, bisa nambahi rakêtíng sêsambungan. Nangíng suwaliké yèn pådhå angèl ngênggóni sifat êmóng-kinêmóng mau gênah långkå langgêngé, malah bédaníng panêmu sithík baé biså marakaké dhahuru.
Pitudúh : 46
Wóng kang ora naté nandhang prihatin ora bakal kasinungan råså pangråså kang njalari têkané råså trênyúh lan wêlas lahír batiné. Wóng kang wís naté kêtaman ing prihatin luwíh biså ngrasakaké pênandhangé wóng liya. Mulå adhakané luwíh gêlêm awèh pitulungan marang kang kasusahan.
Pitudúh : 47
Sarupaníng wêwadi sing ålå lan sing bêcík, yèn isíh kók gémból lan mbók kêkêt kanthi rêmít ing ati salawasé isih bakal têtêp dadi batúr. Nangíng yèn wís mbók kétókaké sathithík baé bakal dadi bêndaramu. Isíh lagi nyimpên wêwadiné dhéwé baé wís abót. Åpå manèh yèn nganti pinracåyå nggêgêm wêwadiné liyan. Mulå såkå iku åjå sók dhêmên kêpingín mêruhi wêwadiné liyan. Síng wís cêthå múng bakal nambahi sanggan síng sêjatiné dudu wajíbmu mèlu opèn-opèn.
Pitudúh : 48
Sók såpåå bakal nduwèni råså kúrmat marang wóng kang tansah katón bingar lan padhang polatané, nadyan tå wóng mau nêmbé baé nandhang susah utåwå nêmóni pêpalang ing panguripané. Kósókbaliné, wóng kang tansah katón suntrút kêrêp nggrundêl lan grênêngan mêrgå ora katêkan sêdyané iku cêthå bakal kóncatan kêkuwataníng batín lan tênagané, tangèh lamún éntukå pitulungan, kêpårå malah dadi sêsirikaníng mitra karuhé.
Pitudúh : 49
Kitå iki diparingi cangkêm siji lan kupíng loro déníng Kang Måhå Kuwåså, liré mêngku karêp amríh kitå iki kudu luwíh akèh ngrungókaké katimbang micårå. Yêktiné wóng kang dhêmên ngumbar cangkêmé tinimbang kupingé iku adaté wicarané gabúg. Suwaliké síng akèh ngrungókaké, wicarané sêthithík nangíng patitís lan mêntês. Pantês dadi jujugané sadhêngah wóng kang mbutúhaké rêmbúg kang prayogå.
Pitudúh : 50
Wóng kang tansah dhêmên ngupíng kêpingín wêrúh, åpådéné nyampuri pêrkarané liyan, gêdhéné nganti nrambul urún ucap, iku pådhå karo golèk-golèk mómótan kang sêjatiné ora prêlu, adhakané kêpårå malah ngrêridhu awaké dhéwé.
Pitudúh : 51
Ucap sakêcap kang kêlaír tanpå pinikír kêrêp baé nuwúhaké drêdah lan bilahi. Mula wêtuné têmbúng satêmbúng såkå lésan iku prayogå tan udinên aja nganti nggêpók prêkarané wóng liyå, gêdhéné nganti gawé sérikíng liyan. Biså nyandhêt uculé pangucap kåyå mangkono mau wís klêbu éwóníng pakarti kang utåmå. Nangíng généyå kók ora sabên wóng biså nglakóni ?
Pitudúh : 52
Wóng iku yèn wís kasókan kabêcikan lan rumangsa kapotangan budi, ing sakèhíng pakartiné lumrahé banjúr ora kêncêng lan rêsík. Mulané tangèh lamún yèn biså njågå jêjêgíng adíl, awít lésané kasumpêtan, mripaté bêrêng, kupingé budhêg. Atiné dadi mati, angèl wêrúh ing bêbênêr. Mulå såkå iku åjå gumampang nåmpå kabêcikané liyan, samångså tujuwané ngarah marang pênggawé kang nalisír såkå bêbênêr.
Pitudúh : 53
Åjå kasêlak kêsusu nyêpèlèkaké liyan, margå kók anggêp wóng mau bodho. Awít ånå kalamangsané kowé mbutúhaké rémbúg lan pituturé wóng iku, síng kanyatané biså mbéngkas lan nguwalaké såkå karuwêtanmu. Pancèn ing sawijiné bab wóng biså kaaran bodho, nangíng ing babagan liya tangèh lamún yèn kowé biså nandhingi.
Pitudúh : 54
Yèn micårå åjå gumampang nêlakaké pênacad utawa pangalêm, luwíh- luwíh nganti mêmaóni. Awít wicaramu durúng karuwan bênêr. Síng mêsthi panacad mau gawé sêrík, pangalêmé nuwúhaké wiså, déné waónané ora digugu, kabèh swårå ålå. Mulå kang prayogå iku múng mênêng, jalaran mênêng iku yêktiné pancèn mustikaníng ngauríp.
Pitudúh : 55
Udinên ing alam donya iki åjå ånå wóng kang kók sêngiti, supaya ora ånå wóng sêngít marang kowé, balík sabiså-biså pådhå trêsnanånå. Amargå lêlakón ing alam donya iki anané múng walês-winalês baé. Déné yèn kêpêkså kowé sêngít marang sawijiníng wóng, mångkå kowé ora biså mbuwang sêngítmu, gawénên wadi åjå ånå wóng kang ngêrti. Yèn kowé ngandhakaké sêngítmu marang liyan, prasasat kowé mamèraké alané atimu.
Pitudúh : 56
Ajiníng dhiri ånå ing lati. Ajiníng rågå ånå ing busånå. Mula dèn ngati-ati ing pangucapmu, sêmono ugå anggónmu ngadi busånå kang bisa mapanaké dhiri.
Pitudúh : 57
Wóng pintêr kang isih gêlêm njalúk rêmbugíng liyan iku dianggêp manungsa utúh. Såpå síng rumangsa pintêr banjúr suthík njaluk rêmbuging liyan kuwi manungsa sêtêngah wutúh. Lan síng såpå ora gêlêm njalúk rêmbugíng liyan, iku bisa kinaranan babar pisan durúng manungså.
READ FULL ARTICLE - Kautamaning Bebrayan

Popular Posts